Vol. 2, No. 2, 2014

cover jse oktober 2014-001

Abstrak dari Jurnal Sola Experientia Vol. 2, No. 2, Oktober 2014

(Sila berlangganan untuk isi lengkapnya)

 

TANGGAPAN GEREJA ATAS KRISIS LINGKUNGAN HIDUP

Robert P. Borrong (Memeroleh gelar Doktor Teologi dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan Doctor of Philosophy dari Vrije Universiteit. Mantan Ketua STT Jakarta, mengampu matakuliah Etika dan menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Etika STT Jakarta).

ABSTRACT: Since 1961, The World Council of Churches and the Communion of Churches in Indonesia have released theological statements concerning how churches should react to the environmental crisis. Ever since, churches have understood the ecological damages as part of human behavior that does not suitable to God’s purpose of creation. Economy and ecumenical are understood as two factors that go together, as opposed to the anthroposentrical view. The main task of Christian theology is to reinterpret the texts that speak about the relation between human and their environment, as God has intended them to be. Churches need to make sure that good implementation of these documents in the practical lives.

ABSTRAK: Dewan Gereja-gereja Dunia (DGD) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia telah mengeluarkan pernyataan teologis mengenai bagaimana gereja turut serta dalam menghadapi krisis lingkungan hidup sejak 1961. Sejak saat itu, gereja sudah memahami kerusakan lingkungan hidup sebagai bagian dan wujud dari perilaku manusia yang tidak sejalan dengan tujuan Tuhan menciptakan alam semesta. Ekonomi dan ekumene dipahami berjalan secara bersama, yang digunakan menolak pandangan antroposentris. Tugas teologi Kristen yang utama adalah melakukan reinterpretasi teks-teks yang berbicara tentang hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya sesuai dengan maksud Sang Pencipta. Gereja perlu memerhatikan implementasi berbagai dokumen tersebut dalam praktik kehidupan sehari-hari.

KEYWORDS: World Council of Churches, Communion of Churches in Indonesia, environment, ecumenical, economy,
theological documents

KATA-KATA KUNCI: Dewan Gereja-gereja Dunia, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, lingkungan hidup, ekumene, ekonomi, dokumen teologis

 

KUDUSLAH KAMU SEBAB AKU KUDUS (1 PETRUS 1:16)

Samuel Benyamin Hakh (Memeroleh gelar Doktor Teologi pada Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Dosen tetap
Bidang Perjanjian Baru pada Sekolah Tinggi Teologi Jakarta).

ABSTRACT: The church, which is addressed in the letter of 1 Peter, is a church that lives isolated and persecuted. When they became
Christians, they are regarded as “foreigners,” because Christianity was unfamiliar to the public, which is generally the heathen. Moreover, most of the members of the church comes from the lower classes. That is why they were subjected to persecution from the surrounding community. Although the church members living in difficult circumstances, the author of the letter 1 Peter exhorts the church members to obey the government and convince the congregation so that they steadfast in face with persecution and maintain a holy life, because God, who has called the church is holy.

ABSTRAK: Jemaat, yang disapa dalam surat 1 Petrus, adalah satu jemaat yang hidupnya terasing dan teraniaya. Ketika mereka menjadi Kristen, mereka dianggap sebagai “orang asing,” sebab kekristenan masih asing bagi masyarakat, yang pada umumnya kafir. Apalagi kebanyakan anggota jemaat berasal dari golongan bawah. Itulah sebabnya mereka menjadi sasaran penganiayaan dari masyarakat sekitar. Walau anggota jemaat itu hidup dalam keadaan yang sulit, penulis surat 1 Petrus menasihati anggota jemaat agar taat kepada pemerintah dan meyakinkan jemaat supaya mereka tabah dalam menghadapi penganiayaan itu dan memelihara hidup yang kudus, sebab Allah, yang telah memanggil jemaat itu adalah kudus.

KEYWORDS: holy, sin, strangers, steadfast in suffering, obedient children, migrants and immigrants, hope.

KATA-KATA KUNCI: kudus, dosa, orang asing, tabah dalam penderitaan, anak-anak yang taat, pendatang dan perantau, pengharapan.

 

MISI HOLISTIK DALAM INJIL-INJIL: Refleksi Alkitabiah Mengenai Misi Integral

Kees de Jong (Memeroleh gelar doktor dari Radboud Universteit, Nijmegen dalam bidang Misiologi. Sekarang menjadi dosen di Fakultas Theologia Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW)).

ABSTRACT: Holistic or integral mission comprises three dimensions which can not be seperated from one another: the great commission, the great commandment and the great calling. In other words, the three dimensions are bringing together the being, doing and saying of witness or the proclamation of the Gospel in words and deeds. After giving several definitions of integral mission, the author shows how in several parts of the four gospels the three dimensions are treated in different ways, based on a variety of interpretations. According to the author this holistic “evangelical” variety as a sign of the richness of the Christian tradition may be translated also to the variety within the different Christian denominations: if they respect each other and complement each other they show together the richness of holistic mission as presented in the four gospels.

ABSTRAK: Misi integral atau holistik terdiri dari tiga dimensi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain: amanat agung, perintah agung dan panggilan agung atau dengan kata-kata lain, menyatukan kehidupan, sabda dan perbuatan sebagai kesaksian, atau pewartaan Injil dengan kata-kata dan perbuatan. Setelah memberikan beberapa definisi dari misi integral, penulis menunjukkan bagaimana dalam beberapa perikop dari keempat Injil, berdasarkan berbagai penafsiran, ketiga dimensi dibahas secara berbeda. Menurut penulis varietas ‘injili’ yang holistik ini, yang merupakan kekayaan of the Christian tradition, juga dapat diterjemahkan ke dalam berbagai denominasi Kristen yang berbeda: jika mereka saling menghormati mereka juga menunjukkan bersama kekayaan misi holistik, saling melengkapi, seperti dipresentasikan dalam keempat Injil.

KEYWORDS: Holistic mission, four Gospels, richness of the Christian tradition.

KATA-KATA KUNCI: Misi holistik, empat Injil, kekayaan tradisi Kristen

 

MISIOLOGI ATAU TEOLOGI INTERKULTURAL?

Olaf Schumann (Memeroleh gelar doktor dalam ilmu teologi di Universitas Tübingen, Jerman, 1972. Pada tahun 1981 diangkat menjadi Guru Besar di Universitas Hamburg dalam bidang agama-agama dan misiologi. Sekarang mengajar di Sabah Theological Seminary).

ABSTRACT: During the last century, the Christian Mission, and with it its scientific endeavor: missiology, has come under severe criticism because of its history and its presumed close dependence from the colonial enterprises. Regardless of the question in how far these accusations are substantial or projections, a thorough reconsideration of the meaning and targets of Christian mission in missiology itself has taken place, and in some quarters even its name was changed becoming “Intercultural theology.” The question which now arises is this: in how far are the two terms interchangeable? Do both branches of science deal with the same subject? Trying to find an answer to this question, the author recalls some of the basic Biblical data, emphasizing on St. John’s Gospel and the role he contributes to the “Logos” of God, his role in creation and particularly, as the logos incarnatus, again among humankind. A special attention is given to the problem in how far the crucifixion itself was decided by God and consented by Jesus, and to which purpose it actually should serve according to “the will of God.”

ABSTRAK: Selama abad yang lalu, misi Kristen bersama dengan
ilmu yang membahasnya, yaitu misiologi, sering dikritik secara tajam. Sebabnya ialah sejarahnya dan keterlibatannya dalam banyak kegiatan kolonialis. Lepas dari soal apakah kritik dan tuduhan-tuduhan itu berdasarkan fakta atau merupakan khayalan, dalam ilmu misiologi sendiri telah dimulai juga suatu pemikiran ulang yang seksama dan mendalam mengenai makna dan tujuan misi Kristen di pelbagai perguruan teologi, nama “misiologi” telah diganti menjadi “teologi interkultural.” Pertanyaan yang segera muncul ialah: betapa jauhkah dua istilah ini mempunyai makna yang sana? Apakah dua cabang ilmu ini menyelidiki materi yang sama? Dalam usaha mencari jawaban atas masalah ini, maka penulis rujuk kepada beberapa data biblika, khususnya kepada Injil Yohanes dan peranan Logos Allah, peranannya dalam penciptaan dan, secara khusus, sebagai logos incarnatus di tengah-tengah manusia. Perhatian khusus diberikan kepada soal berapa kauhkah Allah sendiri memutuskan bahwa Yesus harus disalib, dan apa itu keputusan Allah yang dia menyetujui.

KEYWORDS: culture, creation, religious law, salvation, Logos incarnatus, missiology, order of life, intercultural theology

KATA-KATA KUNCI: budaya, ciptaan, hukum agama, keselamatan, Logos incarnatus, misiologi, tatanan hidup, teologi
interkultural

 

ORTODOKSI VERSUS POSTMODERNISME

Jan Sihar Aritonang (Guru Besar bidang Sejarah Gereja di STT Jakarta sejak 2011, memeroleh gelar Doctor of Theology di South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST) pada 1988 dan Doctor of Philosophy di Utrecht University pada 2000).

ABSTRACT: Postmodernism, (include, Postmodern Theology), is responded by the churches and theologians in Indonesia differently. Some of them view it as a serious danger, while some others find it as inevitable. From the second century many Christian churches and theologians attempted to formulate the orthodox teaching and in many cases they did not agree. Since mid of 20th century the postmodern philosophy and theology came to give alternative as well as critique and correction to modern philosophy and theology, incl. the so-called orthodox theology. Started with Friedrich Nietzsche as the so-called prophet of postmodernism, some postmodern philosophers, like Jacques Lacan, Emmanuel Lévinas, Martin Heidegger, François Lyotard, Michel Foucault, Jean Baudrillard, and Jacques Derrida promoted their thinking and brought significant influence to theology. Postmodernism has four categories: (1) Deconstructive postmodernism (=ultramodernism); (2) Liberationist postmodernism; (3) Constructive postmodernism; and (4) conservative or restorationist postmodernism. A number of theologians – like Mark C. Taylor, Robert Scharlemann, George Lindberg, Harold Bloom, Zygmunt Bauman, Don Cupitt, John Milbank, Harvey Cox, Sandra M. Schneiders, Tom Jacobs, and Gerrit Singgih responded postmodern positively, while also criticized certain points of postmodernism.

ABSTRAK: Postmodernisme, (termasuk teologi postmodern), ditanggapi secara berbeda dari gereja-gereja dan para teolog Indonesia. Beberapa menganggapnya sebagai bahaya, sementara yang lain meniscayakannya. Sejak abad ke-2, gereja-gereja dan para teolog berusaha merumuskan ajaran ortodoks dan mereka tidak sepakat dalam banyak hal. Dari pertengahan abad ke-20, filsafat dan teologi postmodern lahir untuk memberi alternatif termasuk koreksi terhadap filsafat dan teologi modern, termasuk apa yang disebut teologi ortodoks. Dimulai dengan Friedrich Nietzsche yang disebut sebagai nabi postmodernisme, filosof postmodern lainnya seperti Jacques Lacan, Emmanuel Lévinas, Martin Heidegger, François Lyotard, Michel Foucault, Jean Baudrillard, dan Jacques Derrida mengajukan pemikiran mereka dan memengaruhi teologi dengan hebatnya. Postmodernisme memiliki empat kategori: (1) Postmodernisme dekonstruksi (=ultramodernisme); (2) Postmodernisme pembebasan; (3) Postmodernisme konstruktif; dan (4) Postmodernisme konservatif atau restoratif. Sejumlah teolog seperti Mark C. Taylor, Robert Scharlemann, George Lindberg, Harold Bloom, Zygmunt Bauman, Don Cupitt, John Milbank, Harvey Cox, Sandra M. Schneiders, Tom Jacobs, dan Gerrit Singgih memberi respons yang positif terhadap postmodernisme, sementara juga tetap memberi catatat kritis terhadapnya.

KEYWORDS: orthodox, neo-orthodoxy, modern/liberal theology, postmodernism, postmodern theology, language, fundamentalism, pluralism, foundationalism, the other

KATA-KATA KUNCI: ortodoks, neo-orthodoxy, teologi modern/liberal, postmodernisme, teologi postmodern, bahasa, fundamentalisme, pluralisme, foundationalisme, sang liyan

 

POSTMODERNITAS DAN TEOLOGI MISI: Suatu Perspektif Teologi Misi Pentakostal/Karismatik 

Junifrius Gultom (Dosen Pascasarjana di STT Bethel Indonesia, Jakarta; Lulusan doktor misi dari Presbyterian University and Theological Seminary (PUTS), Korea Selatan, Master Psikologi Terapan, kekhususan Psikologi Intervensi Sosial dari Universitas Indonesia (UI). Pernah mengikuti Induction Research School di the Oxford Centre for Mission Studies, UK).

ABSTRACT: There are many discussions on the effect of postmodernism for Christian theology in general. It is, of course,
affecting Christian theology of mission as well. However, only few has paid attention to what extend postmodernism affects
Pentecostal/Charismatic theology of Mission. Pentecostal/ Charismatic theology of mission, as often regarded, has in common with that of evangelical model of a biblical theology of mission. While Pentecostal/Charismatic theology of mission is still in the making, it rather, however, is a more experiential and existential one. This seems to be compatible to that of the postmodern era. This article picks one inspiring model of theology of Bultmann and Tillich as an example of postmodern model of theology which is important to be considered for doing theology of mission in future. At last, this article suggests a foundational contribution on doing theology of mission from Pentecostal/Charismatic theology point of view.

ABSTRAKSI: Sudah banyak yang membahas dampak postmodernisme kepada teologi Kristen secara umum. Tentu,
hal ini juga berpengaruh kepada teologi misi Kristen. Tetapi, kita baru mendengar sedikit analisis tentang bagaimana dampak postmodernisme bagi teologi misi Pentakostal/Karismatik. Pentakostal/Karismatik sering dipersepsikan sama dengan kelompok evangelikal di dalam konstruksi teologi misinya yang bersifat “teologi misi biblikal.” Namun, walau konstruksi teologi misi Pentakostal/ Karismatik masih pada tahap in the making, dalam kenyataannya ia lebih bersifat eksperiensial dan eksistensial. Model ini tampaknya sesuai dengan era postmodern. Model berteologi Bultmann dan Paul
Tillich yang lebih bersifat dialogis dan eksistensial dapat menjadi inspirasi bagi diskursus pembangunan teologi misi masa depan. Akhirnya, artikel ini juga mengajukan suatu kontribusi fondasional dari Pentakostal/karismatik bagi pengerjaan teologi misi.

KEYWORDS: Theology of mission, Pentecostal/charismatic, contextual theology, narrative, missional hermeneutic.

KATA-KATA KUNCI: Teologi misi, pentakostal/karismatik, teologi narasi kontekstual, hermeneutik misional.

2 thoughts on “Vol. 2, No. 2, 2014

  1. erwin

    bagaimana saya bisa mendapatkan jurnal ini? terimakasih

  2. Kees de Jong

    Saya melihat bahwa artikel saya sudah dipublikasikan dalam Vol 2, nomor 2. Maka saya mohon untuk mengirim kapada saya satu eksemplar dari Sola Gratia (atau pdf dari artikel saya) dengan tanggal publikasinya.

    Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian!

Leave a reply

required