Vol. 2, No. 1, 2014

cover Jurnal april 2014Abstrak dari Jurnal Sola Experientia Vol. 2, No. 1, April 2014

(Sila berlangganan untuk isi lengkapnya)

PREDESTINASI MULTIRELIGIUS: Mencari Dasar TeologiAgama-agama Calvinis yang Lebih Ramah terhadap Agama Lain
Agustian Sutrisno (Menyelesaikan studi doktoralnya dari Faculty of Education, Queensland University of Technology dengan beasiswa Prime Minister’s Australia-Asia Endeavour Award. Pendidikan formal teologinya diselesaikan di STTJ (M.Min, 2010). Sebelumnya ia belajar Sastra Inggris di Universitas Indonesia dan Administrasi Pendidikan di University of New South Wales)

ABSTRACT: While Calvinist teachings are often considered as highly exclusive in viewing the potentials for salvation in other faith, a more thorough reading of Calvinist predestination doctrines provides a basis for building a Calvinist theology of religions that is more hospitable to other religions. The present study begins with examining Lindbeck’s post-liberal theology which remained faithful to the assertion that Jesus Christ is fundamental for Christian salvation without denying the uniqueness of other religions. Subsequently, predestination as one of the hallmarks of Calvinist teaching is analysed by comparing the orthodox Calvinist teaching and Barth’s re-interpretation on double predestination. Through the opening of religious boundaries in the orthodox Calvinist predestination and the acceptance of Barth’s proposal that the wrath of God has been put to an end through the sacrifice of Jesus Christ, this paper suggests a Calvinist multi-religious predestination that opens a way to eliminate the superiority complex in viewing other religions among followers of Calvin. A personal reflection and recommendation for re-examining Calvinist teaching which can be used for developing a theology of religions among Calvinist churches concludes this paper.

ABSTRAK: Walaupun ajaran Calvinis sering dianggap terlalu eksklusif dalam memandang kemungkinan keselamatan dalam agama non-Kristen, pembacaan yang lebih teliti akan doktrin predestinasi Calvinis dapat menjadi dasar untuk membangun suatu teologi agama-agama Calvinis yang lebih ramah terhadap agama lain. Studi ini dimulai dengan melihat teologi pasca-liberal menurut Lindbeck yang tetap setia pada pengakuan keselamatan dalam Yesus Kristus bagi iman Kristen tanpa menyangkali keunikan agama-agama lain. Kemudian, predestinasi sebagai sebagai salah satu pokok ajaran khas Calvinis ditelaah dengan membandingkan ajaran Calvinis ortodoks dengan tafsiran ulang Barth atas predestinasi ganda. Dengan membuka sekat-sekat agama dalam paham predestinasi Calvinis ortodoks dan menerima ide Barth bahwa murka Allah telah dituntaskan oleh pengorbanan Yesus Kristus, dapat disusun suatu predestinasi multireligius Calvinis yang membuka jalan untuk menghapus superiority complex di kalangan pengikut Calvin dalam memandang agama-agama lain. Tulisan ini diakhir dengan refleksi pribadi dan rekomendasi untuk menelaah ulang ajaran-ajaran Calvinis yang dapat menjadi dasar bagi pengembangan teologi agama-agama di gereja-gereja Calvinis.

KEYWORDS: Calvin, predestination, double predestination, multireligious, dialogue, Augustine, Karl Barth, George Lindbeck

KATA-KATA KUNCI: Calvin, predestinasi, predestinasi ganda, multireligius, dialog, Agustinus, Karl Barth, George Lindbeck

 

CALVIN AND SERVETUS: A Case of Violence and Calvin’s Involvement

Agustinus M. L. Batlajery (Memeroleh gelar doctor of philosophy (Ph.D.) dari Vrije Universiteit, Amsterdam, dan menjabat sebagai Rektor Universitas Kristen Maluku periode 2009-2014)

ABSTRACT: The murder of Michael Servetus by burning him alive has put a negative mark in the history of Christianity, and even has given Calvin a bad name as a church reformer. Calvin was considered as a kind of ruthless dictator for committing such an act. This view has influenced how people looked at him. However, is that really so? This paper will prove that the accusation towards Calvin is not fully true. Calvin has tried everything that he could to save Servetus from the death sentence, but he did not succeed. Calvin agreed that Servetus must be punished according to the then law against blasphemers. Nevertheless he did not agree with such punishment.

ABSTRAK: Peristiwa pembunuhan Michael Servetus dengan cara membakarnya hidup-hidup telah menodai sejarah kekristenan bahkan mencitraburukkan Calvin sebagai seorang reformator gereja. Calvin dinilai sangat diktator dan tidak berperikemanusiaan karena telah melakukan tindak kekerasan semacam itu. Pandangan ini telah memengaruhi penilaian orang terhadap sang reformator. Akan tetapi, benarkah demikian? Tulisan ini hendak membuktikan bahwa apa yang disangkakan orang terhadap Calvin tidak sepenuhnya benar. Ternyata Calvin telah berusaha sekuat tenaga, dengan berbagai cara, untuk menyelamatkan Servetus dari ancaman penghukuman, namun tidak berhasil. Calvin setuju bahwa Servetus harus dihukum menurut pola pemberian hukuman yang lazim waktu itu kepada para pelanggar atau penghujat agama. Namun ia tidak setuju dengan cara dan bentuk penghukuman seperti itu.

KEYWORDS: Calvin, Michael Servetus, Trinity, execution, inquisition, cruelly burning, punishment.

KATA-KATA KUNCI: Calvin, Michael Servetus, Trinitas, eksekusi, inkuisisi, pembakaran, hukuman.

 

BENTUK PEMERINTAHAN MENURUT JOHN CALVIN

Antonius Steven Un (Memeroleh gelar Magister Theologia dan Magister Divinitas pada STT Reformed Injili Internasional Jakarta, dan menjadi pengajar di tempat yang sama. Merupakan peneliti teo¬logi politik pada Reformed Center for Religion and Society)

ABSTRACT: Anarchy leads to destruction. Christian anarchism is considered contrary to the Bible where states that government is established by God. Meanwhile, the monarchy was suspected because it can easily degenerate into tyranny. The tyrant wants to be like God in the context of absolute power. Unfortunately, tyranny brings oppression and cruelty to the people. Because of this, God raised up deliverers to quell tyrant rulers. The recommended form of government is a mixed form democratic aristocracy. This form is an anticipation of the reality that human beings are depraved. Sin causes the degradation of monarchy into tyranny. Therefore, we need systems that implement social control. This system is a plural leadership. Aristocratic dimension in this system requires wise leadership and popular denial of the right people. Democratic dimension requires election by citizens and liberties guaranteed. This system also prioritizes the rule of law.

ABSTRAK: Anarki berpotensi mendatangkan kehancuran. Anarkisme kristiani dianggap bertentangan dengan Alkitab karena di dalamnya tertulis penetapan Allah atas pemerintahan. Sementara itu, monarki dicurigai karena dengan mudah dapat terdegenerasi menjadi tirani. Para tiran merasa diri ingin seperti Allah dalam hal kekuasaan mutlak. Sayangnya, tirani mendatangkan penindasan dan kekejaman kepada rakyat. Karena itu, Allah membangkitkan para pahlawan pembebas untuk menumpas penguasa tiran. Bentuk pemerintahan yang dianjurkan adalah bentuk campuran aristokrasi-demokrasi. Bentuk ini merupakan antisipasi terhadap realitas bahwa manusia sudah jatuh dalam dosa. Dosa menyebabkan monarki menjadi tirani. Karena itu, diperlukan sistem yang melaksanakan kontrol sosial. Sistem ini adalah kepemimpinan plural. Dimensi aristokrasi dalam sistem ini mensyarakatkan kepemimpinan bijaksana dan penolakan kepada hak populer rakyat. Dimensi demokrasi mensyarakatkan adanya pemilihan oleh warga dan kebebasan yang dijamin. Sistem ini juga mengutamakan supremasi hukum.

KEYWORDS: form of government, government, state, anarchy, monarchy, tyranny, aristocracy, democracy

KATA-KATA KUNCI: bentuk pemerintahan, pemerintah, negara, anarki, monarki, tirani, aristokrasi, demokrasi

 

GEREJA, KEKERASAN DALAM RUMAHTANGGA (KDRT), DAN PELAYANAN PASTORAL

Besly J. T. Messakh (Mahasiswa program doktoral dalam konsentrasi pastoral di STT Jakarta)

ABSTRACT: Family violence needs to be addressed by the church. The problem is the church as community still wrestle with the patriarchal views that so far has been seen as the main factor that driving the family violence. This legacy lived through the teachings and practices of the church. Therefore, in this article I will explain how the church should respond patriarchal views pastorally. It is need to be done because there is no possibility for the church to address family violence properly, if patriarchal views and practices still poisoned the church life. Furthermore, basic on this explanation I will implemented some models and forms of pastoral ministry in transforming the lives of the families in the church when facing and experiencing family violence. By this I hope the church as community has the capability in caring and nurturing family life to face the impact of family violence.

ABSTRAK: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah masalah yang perlu disikapi dalam hidup bergereja. Persoalannya gereja sendiri mewarisi pandangan patriarkhi yang sejauh ini dipandang sebagai faktor utama yang mendorong terjadinya KDRT. Warisan tersebut dihidupi melalui ajaran dan praktik hidup bergereja. Oleh karena itu dalam tulisan ini akan dijelaskan bagaimana seharusnya gereja secara pastoral menyikapi warisan patriarkhi. Hal ini dilakukan karena tidak mungkin gereja dalam kapasitas sebagai komunitas menyikapi masalah KDRT dengan benar, jika pandangan dan praktik hidupnya sendiri masih diracuni pandangan tersebut. Selanjutnya bertolak dari hal di atas akan dijelaskan tentang pelayan dan bentuk pelayanan pastoral seperti apa yang diperlukan gereja dalam mentransformasi kehidupan keluarga yang berhadapan dan mengalami KDRT. Dengan demikian diharapkan gereja dapat menjadi komunitas yang secara integratif mampu merawat dan memelihara kehidupan keluarga dalam menghadapi dampak buruk KDRT.

KEYWORDS: doctrine, Church, family violence, skills, mediation, patriarchy, knowledge, integrative, pastoral, practices, attitude

KATA-KATA KUNCI: ajaran, Gereja, KDRT, keterampilan, mediasi, patriarkhi, pengetahuan, integratif, pastoral, praktik, sikap

 

THE DUALITY OF RELIGIOUS TEXTS AND THE FUTURE OF INTERFAITH DIALOGUE

Clare Amos (Dr. Clare Amos adalah Program Executive for Interreligious Dialogue and Cooperation di Dewan Gereja Dunia, Jenewa, pada saat ini. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Director for Theological Studies dan bertanggungjawab atas relasi lintas iman dalam Kantor Pusat Gereja Anglikan di London)

ABSTRACT: The Bible can be used in many different ways, as a power for change and transformation, a tool of liberation or even a tool of oppression. This is why the process of biblical interpretation is not simple. The question is how we interpret the Bible in facing exclusiveness and interfaith issues? There are two trajectories running through scripture – the exclusive way and the one that is more favourable to the possibility of interreligious engagement and the validity of faith outside the community of Israel or Christ. We can achieve this by being engaged in dialogue, for the biblical text itself is formed partly through dialectic with history and human experience. This duality is shown particularly in the story of Jacob and Esau, that it depicts a message that only when human beings can see the face of God in one another that the holy place of God’s presence can really be manifested here on earth. Our affirmation of the mystery and paradox of God will be fully understood in the openness towards the others.

ABSTRAK: Alkitab dapat digunakan dalam berbagai cara, sebagai sebuah kuasa untuk perubahan dan transformasi, sebuah alat pembebasan, atau bahkan sebuah alat untuk menindas. Karena itu, proses interpretasi Alkitab bukanlah sebuah hal yang mudah. Pertanyannya adalah, Bagaimana kita menginterpretasi Alkitab dalam isu ekslusivitas dan lintas iman? Ada dua arah dalam Alkitab – cara ekslusif dan cara yang lebih terbuka untuk perjumpaan lintas iman dan penerimaan akan iman di luar komunitas Israel dan Kristus. Cara ini bisa dicapai melalui dialog, karena teks Alkitab sendiri dibentuk dialektika antara sejarah dan pengalaman manusia. Dualitas ini terutama ditunjukkan dalam cerita Yakub dan Esau, yang menunjukkan pesan bahwa hanya ketika manusia melihat wajah Allah pada yang lain, maka kehadiran Allah akan bisa dimanifestasikan di bumi. Penerimaan kita akan misteri dan paradoks pemahaman kita akan Allah akan dicapai sepenuhnya dalam keterbukaan terhadap yang lain.

KEYWORDS: exclusiveness, duality, interreligious, biblical interpretation, “I am,” Jacob and Esau

KATA-KATA KUNCI: eksklusivitas, dualitas, lintas iman, interpretasi Alkitab, Akulah, Yakub dan Esau

 

GEHENNA: Suatu Alienasi Subjek

Kevin Juwono Wong (Penulis adalah mahasiswa program studi magister teologi di STT Jakarta)

ABSTRAK: The dominant idea of Gehenna has placed “life after death” as the reference point in doing theology. This writing try to see the idea of Gehenna in “this moment in life:” Gehenna as the relation between subject and the others. In achieving that purpose, I will explore the development of the idea of “Gehenna” in several contexts. I will also work on hermeunetical proccess of two key texts, those are in Matthew 5:21-22 and 5:27-30. The result of this work is an alternative way in making the issue relevant, that theology of Gehenna is now about our speculation of an unknown location, but more as our responsibility towards the other. God is looked at the One who provides the space for those responsible relationships.

ABSTRAK: Arus dominan gagasan tentang Gehenna menempatkan “kehidupan setelah kematian” sebagai titik berangkat berteologi. Tulisan ini menggagas Gehenna pada “kehidupan sekarang ini:” Gehenna di dalam relasi antara subjek dan liyan. Demi tujuan itu, dilakukan penggalian atas perjalanan “Gehenna” dalam beberapa konteks. Selain itu dikerjakan proses hermeneutis atas dua teks kunci, yakni Matius 5:21-22 dan 5:27-30. Gagasan alternatif diharapkan membantu dalam merelevankan isu, sehingga berteologi tentang Gehenna bukan terutama tentang spekulasi lokasi antah-berantah, melainkan tentang tanggung jawab sosial terhadap sesama. Allah dipandang sebagai Dia yang menyediakan ruang bagi relasi-relasi yang mesti dipertanggungjawabkan itu.

KEYWORDS: Gehenna, pragmatic-socio-politics, subordination, subject, the other, alienation, Ultimate Subject, Thymós

KATA-KATA KUNCI: Gehenna, pragmatis-sosio-politis, subordinasi, Subjek, Liyan, alienasi, Subjek Ultimat, Sang Thymós

2 thoughts on “Vol. 2, No. 1, 2014

  1. Nabila Adilah

    Saya tertarik dengan postingan andamengenai jurnal, saya juga memiliki kumpulan jurnal yang bisa anda kunjungi di publication.gunadarma.ac.id

  2. Novan Daeli

    Saya tertarik dengan postingan andamengenai jurnal, saya ingin mendalami kdrt

Leave a reply

required