Vol. 1, No. 2, 2013

cover Jurnal okt vers 3Abstrak dari Jurnal Sola Experientia Vol. 1, No. 2, Oktober 2013

(Sila berlangganan untuk isi lengkapnya)

 

KORUPSI, MORALITAS DAN KARAKTER BERAGAMA

Johanis Haba (Memeroleh gelar Doctor of Philosophy dari University of Western Australia. Peneliti Uta­ma Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia serta menjabat sebagai Dosen Tetap Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Jakarta mengampu matakuliah Metode Penelitian Ilmiah)

ABSTRACT: The Indonesian government has resorted to religious, moral, and character education approach in dealing with the reality of the growing number of corruption acts. However, there is a question about the success possibility of this approach. Religious values that hold an important place in the nation’s life have done little help in putting the number of corruption crimes down. Religious institutions are not free from corruption. The religiousity character in Indonesia has the tendency to be formalistic, and is yet to give any contribution in the practical level. This paper will suggest some of the alternatives through moral and character education according to the need of the nation in the fight against corruption. Theological seminaries and faculties have an important role in the character eduction of the nation’s morality.

ABSTRAK: Menghadapi realitas maraknya tindak korupsi, pemerintah Indonesia berpaling kepada usaha pendekatan agama, moral dan karakter. Namun demikian, muncul pertanyaan tentang keefektifan metode ini. Nilai-nilai agama yang mendapat tempat penting dalam kehidupan bangsa ternyata tidak membantu menurunkan jumlah kejahatan korupsi. Beberapa lembaga keagamaan pun tidak luput dari hal ini. Karakteristik beragama di Indonesia ternyata cenderung bersifat formalistik dan belum masuk dalam ranah praksis. Makalah ini akan menyajikan beberapa alternatif melalui pendidikan moral dan karakter yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia untuk melawan korupsi. Sekolah-sekolah Tinggi Teologi diharapkan mampu menguatkan peran pendidikan karakter ini dalam pembentukan moralitas bangsa.

KEYWORDS: character, morality, corruption, education, imperative, civil society, law enforcement, formalistic

KATA-KATA KUNCI: karakter, moral, korupsi, pendidikan, imperatif, masyarakat sipil, penegakan hukum, formalistik

 

CAN LIBERATION THEOLOGY SERVE INDONESIA? Semper Reformanda and the Spiritual Challenges of Our Times

Alastair McIntosh  (Memeroleh gelar Doctor of Philosophy di University of Ulster. Dia juga seorang Honorary Fellow di School of Divinity (New College), University of Edinburgh dan seorang Honorary Senior Research Fellow di College of Social Sciences, University of Glasgow)

ABSTRACT: This paper explores liberation theology as theology that liberates theology itself from time-conditioned human past limita­tions. It outlines the principles of Christian liberation theology and points towards parallels in the Islamic tradition. Using examples from Indonesia and Scotland, including the author’s connections with the Papua Province of Indonesia, it shows how an applied theology based on love in action can bridge differences across denominations and faiths. It can lead not just to dialogue, but to a deeper mutual appre­ciation and taking care of one another. In particular, liberation theolo­gies can help us to overcome violence in the world today, healing com­munities that are broken, overcoming poverty, and leading towards a fuller human development in promised “life abundant.”

ABSTRAK: Makalah ini mengeksplorasi teologi pembebasan sebagai teologi yang membebaskan teologi itu sendiri dari batasan manusia di masa lalu karena kondisi waktu. Makalah ini memberi dasar prin­sip dari teologi pembebasan Kristen dan membandingkannya dengan tradisi Islam yang paralel. Dengan menggunakan contoh dari Indo­nesia dan Skotlandia, termasuk hubungan penulis dengan provinsi Papua, makalah ini menunjukkan bagaimana sebuah aplikasi dari teo­logi berbasis kasih dapat menjembatani perbedaan antar denominasi dan iman. Dia dapat menunjuk bukan hanya ke dialog, tetapi juga ke sebuah apresiasi bersama yang lebih dalam untuk saling memper­hatikan. secara khusus, teologi-teologi pembebasan membantuk kita mengatasi kekerasan di dunia pada masa ini, menyembuhkan komu­nitas yang terluka, mengatasi kemiskinan, dan menuntun menuju sebuah pertumbuhan manusia yang sepenuhnya dalam “kehidupan yang berkelimpahan.”

KEYWORDS: liberation theology, Indonesia, Scotland, poverty, vio­lence, nonviolence, community empowerment, interfaith.

KATA-KATA KUNCI: teologi pembebasan, Indonesia, Skotlandia, kemiskinan, kekerasan, nirkekerasan, pemberdayaan komunitas, lin­tas iman.

 

PRACTICES AND THEORIES OF PRAYER

F. Gerrit Immink (Memeroleh gelar Doctor of Philosophy dari PThU. Guru besar bidang Teologi Praktika dan sejak 2007 menjabat sebagai Rektor di Protestantse Theologische Universiteit, Belanda)

ABSTRACT: Regions of the world have different views on prayer. While in some societies, prayer is seen critically, in other parts of the world, it is an important practice in daily lives. Christian prayers also diverse in practice and purpose. The challenge of the western world view that demistifies prayer makes it more relevant for us to discuss how can we understand the presence of God in prayer. This paper argues that prayer evokes attitudinal change because of the awareness of God. By confessing his/her belief in God in prayer, the person is changed because the sense of God’s presence.

ABSTRAK: Berbagai tempat di dunia memiliki pandangan yang ber­beda mengenai doa. Sementara doa dilihat dengan kritis di beberapa masyarakat, di belahan dunia yang lain, doa adalah praktik sehari-hari yang penting. Doa-doa secara Kristen juga berbeda dalam praktik dan tujuan. Tantangan dari pandangan dunia barat yang menghilang­kan sisi mistis doa membuat pembicaraan mengenai kehadiran Allah dalam doa menjadi sangat relevan. Makalah ini menunjukkan bah­wa doa mengundang perubahan sikap karena kesadaran akan Allah. Dengan mengakui imannya kepada Allah dalam doa, orang tersebut menjadi berubah karena perasaan akan kehadiran Allah.

KEYWORDS: theology of prayer, Holy Spirit, demystified, aware­ness of God, existence, confession.

KATA-KATA KUNCI: teologi doa, Roh Kudus, demistifikasi, kes­adaran akan Allah, kehadiran, pengakuan.

 

CREATION SPIRITUALITY: An Indonesian Torajan Perspective

Robert P. Borrong (Memeroleh gelar Doktor Teologi dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan Doc­tor of Philosophy dari Vrije Universiteit. Mantan Ketua STT Jakarta, mengampu matakuliah Etika dan menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Etika STT Jakarta)

ABSTRACT: This article takes up a new method for understanding spirituality from the perspective of local wisdom, drawing from the Torajan cultural perspective. Its aim is to provide new methods of study that recognize local wisdom’s contribution to the universal life of the human being. The article first traces in rough lines the mystical thinking about life among the Torajan people. It starts with myths and legends, then continues to ceremonies and rituals, then moves to how these are implemented in the practices of daily living. The spirituality of Torajan local wisdom is revealed in the depth of its respect for all life, human and non-human. Torajan culture respects not only the physical reality of life, but also the “non-real” or spiritual life. This at­titude of respect for life’s spiritual aspect results in a constructive and fruitful relationship between humankind and other living creatures.

ABSTRAK: Artikel ini menggunakan metode baru untuk memahami spiritualitas dari perspektif kebijaksanaan lokal, yang diambil dari per­spektif kebudayaan Toraja. Artikel ini bertujuan untuk menyediakan metode belajar baru yang mengenali kontribusi kebijaksanaan lokal bagi kehidupan universal umat manusia. Pertama, kita akan mencari garis penyambung dari pemikiran mistik tentang hidup orang Toraja. Dimulai dengan mitos dan legenda, lalu diteruskan ke upacara dan ritual, kita akan melihat bagaimana hal-hal ini menyatu dengan baik dalam kehidupan orang Toraja. Spiritualitas lokal orang Toraja terle­tak dalam kedalamannya dalam menghargai semua kehidupan, ma­nusia dan spesies lainnya. Budaya Toraja menghormati bukan hanya realitas fisik dari hidup, tapi juga kehidupan spiritual yang “tidak nya­ta.” Sikap menghargai kehidupan ini menghasilkan hubungan yang konstruktif dan baik antara manusia dan makhluk hidup lainnya.

KEYWORDS: spirituality, creation spirituality, myth, legends, cer­emony, ritual, Toraja, traditional culture, tale, tongkonan, puya.

KATA-KATA KUNCI: spiritualitas, spiritualitas ciptaan, mitos, le­genda, upacara, ritual, Toraja, budaya tradisional, dongeng, tong­konan, puya

 

FENCING THE LORD’STABLE

Ester P. Widiasih (Memeroleh gelar Doctor of Philosophy dari Fakultas Teologi Drew University. Mengampu matakuliah liturgika dan menjabat sebagai Kepala Bengkel Liturgi dan Musik STT Jakarta)

ABSTRACT: A feature of the practice of the holy communion in Calvinist churches is the calling of those who are considered worthy or unworthy to partake in that sacred meal. John Calvin mentions explicitly and in detail who is unworthy and worthy. The article dis­cusses the background on the practice during the life of Calvin in the sixteenth century. It must be understood as an effort to educate and pastor the church members, since most of them are new to the Prot­estant teaching. Calvin believed, that when the Lord’s communion is celebrated and the eucharistic elements are enjoyed, they are united with Christ and with one another as Christ’s mystical body. Therefore, the emphasis on holiness as a requirement and as a fruit of partaking the holy communion is an important feature of the Calvinist church.

ABSTRAK: Salah satu ciri khas praktik perjamuan kudus di gere­ja-gereja Protestan aliran Calvinist adalah penyebutan siapa yang diperkenankan atau tidak diperkenankan mengambil bagian dalam perjamuan tersebut. Yohanes Calvin secara eksplisit dan detail menye­butkan siapa saja yang tidak layak dan layak. Artikel ini membahas latar belakang pemberlakuan pemagaran meja di gereja Jenewa pada masa hidup Calvin di abad 16. Hal ini harus dimengerti sebagai usaha pendidikan dan penggembalaan umat, mengingat banyak anggota je­maat masih baru mengenal ajaran Protestan. Calvin percaya bahwa ketika perjamuan Tuhan dirayakan dan umat menyantap elemen per­jamuan yang adalah tubuh dan darah Kristus, umat dipersatukan de­ngan Kristus sendiri dan dipersatukan dengan umat lainnya sebagai tubuh mistis Kristus. Oleh karenanya, Penekanan pada aspek kekudu­san inilah yang merupakan ciri khas gereja Protestan.

KEYWORDS: John Calvin, Genevan Church, Eucharist, holy com­munion, fencing of the Lord’s table, Protestantism, Consistory

KATA-KATA KUNCI: Yohanes Calvin, Gereja Jenewa, Ekaristi, Per­jamuan Kudus, memagari meja Tuhan, Protestantisme, Konsistori

 

ONTOTEOLOGI DAN KEBERADAAN TUHAN

Yulius Tandyanto (Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara)

ABSTRACT: The existence of God is one of most fundamental themes which has always theologically and philosophically debated. From those context, Jean-Luc Marion has argued that it is mistaken and useless to prove the existence of God. Therefore, he proposes a new method to talk about God phenomenologically. In order to do so, he has constructed his notion on Heidegger’s ontotheology critics in history of Western metaphysics, and wanted to overcome Heidegger’s “Being.” As a result, Marion’s phenomenology emphasizes alterity which is divine and ineffable. Marion has argued that the icon speaks of a vision of God that does not describe or even see the divine, but instead opens itself to God’s generous self-giving. In fact, the gaze is returned not as the idolatrous, as is the case for the idol, but as a be­ing envisaged by the divine. The icon therefore provides an encounter with God that does not reduce the divine to a mere concept or an image of oneself.

ABSTRAK: Keberadaan Tuhan merupakan salah satu tema yang se­lalu diperdebatkan secara teologis maupun filosofis. Dalam konteks tersebut, Jean-Luc Marion berpendapat bahwa perihal membuktikan keberadaan Tuhan merupakan upaya yang keliru dan sia-sia. Melalui metode fenomenologi, Marion menawarkan model dan cara pemba­hasaan yang khas tentang Tuhan. Marion membangun gagasan terse­but di atas kritik ontoteologi Heidegger terhadap sejarah metafisika Barat, dan melampaui “Ada” Heidegger. Implikasinya, fenomenologi Marion menitikberatkan pada keberlainan yang bersifat ilahi dan yang tak terlukiskan. Marion menunjukkan bahwa ikon mengantar kita pada Tuhan bukan dengan mendeskripsikan atau melihat yang ila­hi, tetapi dengan membuka diri terhadap penyataan diri Tuhan yang murah hati. Malahan, pandangan-sekilas akan yang ilahi tidak akan menjadi berhala seperti pada idola, melainkan sebagai pengada yang dijumpai oleh yang ilahi. Oleh karena itu, ikon membuka jalan untuk bertemu dengan Tuhan tanpa mereduksi sifat yang ilahi menjadi suatu konsep atau imaji tertentu.

KEYWORDS: God, Jean-Luc Marion, idol, phenomenology, onto­theology, being, alterity, icon, gaze, love

KATA-KATA KUNCI: Tuhan, Jean-Luc Marion, idola, fenomenolo­gi, ontoteologi, kemengadaan, keberlainan, ikon, pandangan-sekilas, cinta

Leave a reply

required