Vol. 1, No. 1, 2013

cover Jurnal ver 2Abstrak dari Jurnal Sola Experientia Vol. 1, No. 1, April 2013

(Sila berlangganan untuk isi lengkapnya)

 

ARGUING ABOUT THE EXISTENCE OF GOD: Limits and Possibilities of a Precarious Enterprise

L.A. Hoedemaker (Professor emeritus bidang Misiologi, Ekumenika, dan Etika Kristen di Universitas Gronigen. Beliau pernah mengajar di STT Jakarta pada tahun 1967 sampai dengan 1971)

ABSTRACT: How do we put science and religion in dialogue? This article will review and compare historical settings in which arguments about the existence of God have taken place from a western thought. The process of modernization of life and thought was done in a radical way in the last couple of centuries, which tries to set aside the existence of God. The death of God has three dimensions: first the impact of “masters of suspicion,” Karl Marx, Sigmund Freud and Friedrich Nietzsche; second, the widespread experience of the extreme violence of the twentieth century; and third, the post-modern growing conviction that there is no common truth. The proposed way to talk about God’s existence in this situation is to bring the plurality of the story of God in communities and encouraging mutual interaction of living faith narratives.

ABSTRAKSI: Bagaimana cara meletakkan ilmu sains dan agama dalam dialog? Artikel ini akan melihat dan membandingkan perjalanan sejarah di mana argumen-argumen mengenai kehadiran Allah telah berlangsung di dunia barat. Proses modernisasi kehidupan dan pemikiran telah dilakukan dalam cara radikal di beberapa abad terakhir ini, yang berusaha menyingkirkan argumen mengenai kehadiran allah. “Kematian Allah” memiliki tiga dimensi, pertama, akibat dari para ahli yang selalu mempertanyakan seperti Karl Marx, Sigmund Freud, dan Friedrich Nietzsche; kedua, menyebar luasnya kekerasan yang ekstrem di abad ke-20; dan ketiga, keyakinan posmodern yang semakin bertumbuh mengenai tidak adanya kebenaran bersama. Cara yang diusulkan untuk bicara soal kehadiran Allah dalam situasi seperti ini adalah dengan menampilkan keragaman kisah Allah dalam komunitas orang percaya dan mendorong interaksi dari narasi-narasi iman yang hidup.

KEYWORDS: Death of God, post-modern, fundamentalism, God’s existence, faith narratives, community

KATA-KATA KUNCI: Kematian Allah, postmodern, fundamentalisme, kehadiran Allah, narasi-narasi iman, komunitas.

 

ULTIMATE CONCERN IN ETHICS: Thinking on the Steps of Stepping Back, Listening Carefully, and Analyzing in Making Ethical Decisions

Egbert Schroten (Professor emeritus bidang studi Etika Kristen dan Direktur dari Institute untuk Bio-ethics dan Hukum Kesehatan di Universitas Utrecht. Belajar filsafat dan teologi di Universitas Utrecht dan Strasbourg. Ketua dari Komite Nasional Belanda tentang Bioteknologi Binatang dan beberapa Dewan dan Komite lainnya)

ABSTRACT: The religious dimension in human existence, or as Paul Tillich calls as the ultimate concern, contributes a human affair in the realm of ethics. The belief in religious belief is not the same as the divine. The belief is an existential category that we have to recognize and respect. This concern demands dialogue with the other in order to bring the existential experiences to the front. Religious dimension like Christian ethics can also play a role in public discussion of ethics. Referring to James Gustafson, the arguments of putting religious dimensions back in public space are: first, it gives us “the reasons for being moral;” second, the experience of God’s reality through the Christian “story” qualifies the characteristics or the “characters” of the moral agents’; third, it offers us some points of reference “to give guidance to moral action.”

ABSTRAKSI: Dimensi religious dalam kehadiran eksistensial manusia, atau seperti yang Paul Tillich katakan sebagai the ultimate concern, menyumbangkan faktor manusia dalam dunia etika. Kepercayaan dalam agama tidak sama dengan sang ilahi itu sendiri. Kepercayaan adalah sebuah kategori eksistensial yang harus kita kenali dan hormati. Hal ini menuntut dialog dengan yang lain untuk menampilkan pengalaman eksistensial ke permukaan. Dimensi religius seperti etika Kristen juga dalam memainkan peran dalam diskusi publik mengenai etika. Menunjuk kepada James Gustafson, alasan-alasan untuk menaruh kembali dimensi religius dalam diskusi etika publik adalah: pertama, dia memberi kita alasan untuk menjadi manusia bermoral; kedua pengalaman dari realitas Allah dalam kisah kekeristenan memberi karakteristik dari agen moral; ketiga, dia menawarkan sebuah petunjuk bagaimana kita berlaku dengan moral yang baik.

KEYWORDS: Ultimate concern, Paul Tillich, religious dimension, public space, emotion, Christian ethics, Christian morality

KATA-KATA KUNCI: Perhatian utama, Paul Tillich, dimensi religious, ruang publik, emosi, etika Kristen, moralitas Kristen

 

THE TRINITY AS LIBERATION: An Analysis of Leonardo Boff’s Theological Imagination

Hans Abdiel Harmakaputra (Lulusan STT Jakarta, sedang menyelesaikan studi Master of Arts di Hartford Seminary, Connecticut, US, dalam bidang Islamic Studies dan Christian-Muslim Relations)

ABSTRACT: As a liberation theologian, Leonardo Boff shows compatibility between the doctrine of Trinity, as a major doctrine of Christianity, with a liberation perspective. The communion of the Trinity is the perfect example for a human community. Exclusion and oppression is a negation to the picture of perfect communion and contrary to love and compassion as the nature of human communion. Also, Boff perceives the Trinity as a doctrine with practical application for daily life and he accentuates its relevance for contemporary Christianity.

ABSTRAKSI: Sebagai seorang teolog pembebasan, Leonardo Boff memperlihatkan bagaimana perspektif pembebasan dapat kompatibel dengan Trinitas selaku doktrin utama kekristenan. Ia menunjukkan bagaimana persekutuan Trinitas adalah model yang sempurna bagi sebuah komunitas yang merupakan persekutuan antar-manusia. Ekslusi dan penindasan dipandang sebagai sebuah negasi atas gambaran persekutuan yang sempurna dalam Trinitas dan dengan demikian menegaskan bahwa hakikat dari komunitas manusia adalah cinta kasih. Boff menjadikan Trinitas sebagai aplikasi praktis dalam hidup keseharian dan menegaskan relevansinya bagi kekristenan masa kini.

KEYWORDS: Trinity, Liberation Theology, Monotheism, Latin America, perichoresis, Leonardo Boff

KATA-KATA KUNCI: Trinitas, teologi pembebasan, monoteisme, Amerika Latin, perichoresis, Leonardo Boff

 

POLITIK IDENTITAS DAN IDENTITAS POLITIK: Pergumulan Menjadi Gereja Kristen di Tanah Dayak

Marko Mahin (Memeroleh gelar Master dari Leiden University, Belanda, dan Doktor Antropologi dari Universitas Indonesia. Putra Dayak Ngaju ini sekarang mengajar di Universitas Gereja Kalimantan Evangelis, Banjarmasin)

ABSTRACT: The identity of Christian-Dayak came with challenges. Christianity has faced strong challenges from the Dayak and Banjar people when it entered Dayak Land. It was seen as a new identity that is identical with the colonial identity. The stories of two Dayak leaders have been the example of the struggle of tribal-religion identity model. Tamanggung Nikodemus Ambo has shown a model that when a Dayak person becomes christian, he/she will lose his/her political rights and considered as a supporter of the status quo (the lonely way). Hausmann Baboe, on the other hand, managed to work on his ethnical identity as Dayak and used his intellectual capability against the colonials (the way of Bahandang/the red way). Meanwhile, the Evangelical Christian Church in Borneo seems to deny her Dayak identity. The development that came in the Dayak Land as a result of Christianity, also came with the diminishing of Dayak identity. The church should learn from the two person about the struggle of contextual theology in Dayak Land.

ABSTRAKSI: Identitas Dayak-Kristen muncul dengan tantangan. Ketika masuk di Tanah Dayak, kekristenan pernah menghadapi tantangan besar dari orang-orang Dayak dan Banjar. Kekristenan dianggap sebagai identitas baru yang identik dengan agama penjajah. Kisah dua orang tokoh Dayak seperti menjadi model pergumulan identitas agama-suku. Tamanggung Nikodemus Ambo adalah contoh di mana ketika orang Dayak menjadi Kristen maka ia akan kehilangan hak politiknya dan dianggap sebagai pendukung status quo (Jalan sunyi). Sementara itu, Hausmann Baboe dapat mengelola identitas etniknya sebagai orang Dayak tanpa kehilangan rasionalitas dan menggunakan intelektualitasnya untuk melawan penjajah (Jalan Bahandang/Jalan Merah). Sementara itu Gereja Kristen Evangelis yang ada di Kalimantan juga seperti mengingkari identitas ke-Dayak-annya. Kemajuan yang datang dengan kekristenan ke tanah Dayak juga sejalan dengan menghilangnya identitas lokal Dayak. Gereja bisa belajar dari dua tokoh ini mengenai pergulatan kontekstual teologi di tanah Dayak.

KEYWORDS: Dayak, Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), Hausmann Baboe, Tamanggung Nikodemus Ambo, the lonely way, the red way, Evangelist Kalimantan Church, colonial

KATA-KATA KUNCI: Dayak, Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), Hausmann Baboe, Tamanggung Nikodemus Ambo, jalan sunyi, jalan merah, Gereja Kalimantan Evangelis, kolonial

 

KEKERASAN MENGATASNAMAKAN AGAMA: Suatu Tinjauan Etis-Alkitabiah dari Sudut Perjanjian Baru

Samuel B. Hakh (Memeroleh gelar Doktor Teologi dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Mengajar sebagai dosen Perjanjian Baru dan menjabat sebagai Kepala Badan Penjaminan Mutu di STT Jakarta. Assesor BAN-PT)

ABSTRACT: All religions teach love and peace to their followers. However, we cannot deny that there are acts of violence that have been done in the name of religion. Violence occurred because of incomprehensive interpretations toward the interesting texts in the scripture. Later, these verses were used to justify their violent acts. Jesus opposed the use of violence by his disciples. Instead, He taught His disciples to resolve violence without violence. In other words, they have to face violence with love. The same attitude was followed by his disciples and the New Testament writers. The disciples gave advice to the congregation to act against violence with love and blessings.

ABSTRAKSI: Semua agama mengajarkan kasih dan damai kepada para pengikutnya. Tetapi kita tidak bisa menyangkali bahwa ada banyak kekerasan terhadap sesama dengan mengatasnamakan agama. Tindakan-tindakan kekerasan itu terjadi karena penafsiran-penafsiran yang tidak komprehensif terhadap beberapa ayat suci yang sangat menarik perhatian para pemeluk agama. Lalu, ayat-ayat itu dipakai sebagai pembenaran terhadap aksi kekerasan mereka. Tetapi Yesus menentang penggunaan kekerasan oleh para murid-Nya. Sebaliknya, Ia mengajarkan kepada murid-murid-Nya agar menyelesaikan kekerasan tanpa kekerasan. Dalam perkataan lain, mereka harus menghadapi kekerasan dengan kasih. Sikap yang sama diikuti oleh para murid-Nya dan penulis-penulis Perjanjian Baru. Mereka menasihati jemaat agar membalas kekerasan dengan berbuat kasih dan memberi berkat.

KEYWORDS: religion, violence, love, community, zelot, Makabi, law, ius talionis, torture, flame

KATA-KATA KUNCI: agama, kekerasan, kasih, masyarakat, zelot, Makabi, hukum, ius talionis, penganiayaan, bara api

 

ON BEING A CHRISTIAN UNIVERSITY

Yonky Karman (Memeroleh gelar Doktor dari Evangelische Theologische Faculteit, Leuven Belgia. Mengajar Perjanjian Lama dan Filsafat Ilmu dan Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Penulis lepas harian Kompas)

ABSTRACT: Christian university is a part of public services. The attribute “Christian,” explicitly or implicitly, is not only an empty label but it imposes an additional burden for the university stakeholders. Science develops because of the activation of intellectual imagination and a university should provide room for it. Being academic means dealing with universal truths. A university is also a seedbed for intellectual integrity. Christian perspective, when proportionally applied, may contribute to the academic progress. The involvement of religious values do not necessarily obstruct that progress, provided that the application of science is for the good and welfare of society.

ABSTRAKSI: Universitas Kristen merupakan bagian dari institusi layanan publik. Atribut “kristen,” eksplisit ataupun implisit, bukan hanya label kosong melainkan beban tambahan bagi para pemangku kepentingan. Sains berkembang karena aktivasi imajinasi intelektual dan untuk itu universitas seharusnya memberi ruang. Akademis berarti menyangkut kebenaran-kebenaran universal. Universitas juga tempat persemaian integritas intelektual. Perspektif kristiani sejauh proporsional dapat memberi kontribusi bagi kemajuan akademis. Keterlibatan nilai-nilai religius tidak harus menghambat kemajuan, asalkan ilmu diamalkan untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat.

KEYWORDS: positivism, paradigm shift, being academic and Christian, integrity, worldview

KATA-KATA KUNCI: positivisme, perubahan paradigma, menjadi akademis dan Kristen, integritas, pandangan dunia

Leave a reply

required